6 Maret 2017

Memories of Murder (2003)

Susahnya Jadi Detektif
Skor       :  8.0 / 10
Memories of Murder (2003) on IMDb 
Pernah nggak sih ngebayangin kalau-kalau jadi detektif? Ketika dihadapkan pada sebuah kasus yang harus diselidiki, dengan misteri dan teka-teki'nya pastinya akan sangat seru sekali, bahkan seringkali detektif dituntut untuk berpikir selangkah lebih maju dari si pelaku tindak kejahatan demi mencegah terulangnya kembali sebuah tragedi. Namun itu bukan perkara yang mudah. Ya, jadi detektif itu ternyata susah lho. Itulah yang bisa saya tangkap dan rasakan dari film karya sutradara Joon Ho Bong yang terinspirasi dari kisah nyata di Korea Selatan, Memories of Murder. Tahun 1986, detektif Park Doo Man (Kang Ho Song) dan partner'nya detektif Cho Yong Koo (Roe Ha Kim) dihadapkan pada kasus pembunuhan sekaligus pemerkosaan yang menimpa sejumlah wanita di provinsi Gyunggi, Korea Selatan. Korban pertama ditemukan tewas di dalam parit sawah dengan posisi kedua tangan terikat ke belakang, leher tercekik dan dibalut pakaian dalam. Kondisinya sangat mengenaskan. Selang waktu tidak seberapa lama, ditemukan kembali korban kedua, kali ini dengan kondisi yang juga mengenaskan, tergeletak di area persawahan. 

Kasus ini tergolong sangat rumit karena tidak ada bukti yang kuat dan juga saksi, hingga detektif Seo Tae Yoon (Sang Kyung Kim) sengaja didatangkan dari Seoul untuk membantu detektif Park dan detektif Cho melakukan investigasi. Ketiganya memiliki style yang berbeda. Detektif Seo yang selalu bertindak berdasarkan bukti dan saksi tidak bisa berbuat banyak. Sementara itu, detektif Park dan detektif Cho mengembangkan imajinasi, menebak dan mengumpulkan sejumlah nama yang dicurigai sebagai pelaku. Keduanya juga cenderung emosional. Mereka selalu menginterogasi dengan paksaan dan kekerasan agar pelaku mau mengaku. Namun, itu justru menjadi boomerang bagi mereka sendiri. Karena sudah tidak kuat lagi menghadapi kekerasan fisik selama proses interogasi, orang yang tidak bersalahlah yang akhirnya mengakui tindak kejahatan yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan. Pihak kepolisian juga menjadi sorotan media karena telah salah mengidentifikasi pelaku.

Korban wanita pertama yang jenazahnya ditemukan di dalam parit sawah
Korban wanita pertama yang jenazahnya ditemukan dalam parit sawah

Salah satu korban salah identifikasi itu adalah seorang remaja pria idiot yang sempat menjadi salah sasaran dan bulan-bulanan detektif Park dan detektif Cho di meja interogasi. Celakanya, entah darimana asal muasalnya, remaja ini dapat menggambarkan secara detail kronologis pembunuhan itu. Saat itu juga, detektif Park dan detektif Cho langsung menetapkan ia sebagai pelaku dan menahannya. Untungnya, semuanya terbantahkan, karena pembunuhan yang ketiga kembali terjadi. 

Kali ini salah satu staf kepolisian dengan jeli mengamati persamaan waktu kejadian dan juga korban dari ketiga pembunuhan yang sudah terjadi. Pembunuhan sama-sama terjadi di malam hari ketika turun hujan. Pada hari yang sama sebelum pembunuhan terjadi, selalu ada seseorang yang merequest lagu Sad Letter di salah satu siaran radio. Para korban pembunuhannya semuanya adalah wanita cantik yang memakai baju berwarna merah saat kejadian. Dari situlah, detektif Seo, Park dan Cho berusaha menemukan sosok pria dibalik lagu Sad Letter yang diduga adalah pelaku pembunuhan. Apakah mereka akan berhasil mengungkap dan menangkap pelaku pembunuhan yang sebenarnya?

Sudah tidak terhitung banyaknya film yang mengangkat tema pembunuhan berbalut misteri. Rata-rata memiliki persamaan pada beberapa kondisi seperti adanya pelaku, korban, detektif dan ketegangan atau kengerian baik saat pembunuhan berlangsung ataupun ketika detektif berusaha mengejar pelaku. Semua itu juga ada di Memories of Murder, kecuali pembunuhan yang tidak dipertontonkan secara jelas dan vulgar. Namun meskipun demikian, nuansa ngeri masih dapat dirasakan saat pelaku mengintai korban dalam kegelapan malam. Kita juga dapat membayangkan, berimajinasi betapa sadisnya pelaku ketika menghabisi korban dari proses investigasi yang dilakukan oleh detektif Seo, Park dan Cho.

Detektif Seo, Park dan Cho melakukan investigasi
Detektif Seo, Park dan Choi melakukan interogasi

Yang juga membuat film ini berbeda adalah tidak adanya bukti dan saksi yang kuat sehingga proses identifikasi pelaku sedemikian sulitnya bagai mencari jarum dalam jerami. Dari situlah awal cerita dan keasyikan Memories of Murder mulai berkembang. Ketika satu demi satu identifikasi pelaku beserta analisis kemungkinan dan bukti'nya diangkat ke permukaan hingga akhirnya penonton mulai percaya, identifikasi itu pun kembali terbantahkan. Saya pun ikut dibuat geregetan, gemas dan sempat berpikir apakah ketiga detektif ini (Seo, Park dan Cho) sebegitu bodoh dan sembrono'nya hingga berulang kali salah mengidentifikasi si pembunuh. Saya pun jadi ikut-ikutan menebak dan memprediksi kira-kira siapa pembunuhnya. Aarghhhh, tapi memang disinilah keasyikan Memories of Murder dan itu sangat cukup membuat saya semakin penasaran dan terus bertahan hingga akhir film demi mengetahui identitas pelaku yang sebenarnya.

Hal-hal lain yang terjadi di tengah masyarakat yang tinggal di provinsi Gyunggi sebagai dampak peristiwa pembunuhan berantai itu juga tidak luput ditampilkan dalam cerita. Suatu hal yang biasanya terabaikan dalam sebuah film bertema sama. Siapa yang bisa mengelak dan menutup mata jika pembunuhan itu bisa meninggalkan trauma, kekhawatiran keluarga atau malah memberi inspirasi orang-orang di sekitarnya untuk berperilaku nyeleneh hehe. Ditampilkan dengan sangat jeli, menggelitik tapi juga mampu mengecoh penonton dan tentu tidak lupa membuat trenyuh khas film-film Korea.

Sebetulnya, saya ingin memberi skor 8.5 untuk film ini, tapi sayang sekali bagian akhir film inilah yang membuat saya memberi skor 8. Kenapa? Mengecewakan? Nggak juga koq, tetep recommended. Penasaran? Tonton saja film'nya :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar